WHAT'S NEW?
Loading...
Katalis: suatu zat yang mempercepat laju reaksi reaksi kimia pada suhu tertentu, tanpa mengalami perubahan atau terpakai oleh reaksi itu sendiri. Suatu katalis berperan dalam reaksi tetapi bukan sebagai pereaksi ataupun produk.


From: budisma.net


N2(g) + 3H2(g) ↔ 2 NH3(g) (catalyst added), contoh dari katalisnya adalah Fe (s)

SO2 + O2 ↔ SO3 (catalyst added), contoh dari katalisnya adalah NO, V2O5, Pt

C12H22O11 (sucrose) + H20 ↔ C6H12O6 (glucose) + C6H12O6 (fructose) (catalyst added), contoh dari katalisnya adalah HCl

Katalis terbagi menjadi 2 macam dari sifatnya terhadap reaksi
Katalis positif adalah katalis yang dapat mempercepat reaksi
Contohnya adalah 
Fe untuk pembentukan NH3
NO/V2O5/Pt untuk oksidasi SO2 menjadi SO3
H+ untuk hidrolisis sukrosa

Katalis negative adalah katalis yang menurunkan kecepatan (rate) reaksi
Contohnya adalah
H2O2 ↔ H2O + O2 (added catalyst), contohnya adalah H3PO4 atau glycerol
CHCl3 + O2 ↔ H2O + CO (added catalyst), contohnya adalah C2H5OH

Autokalisis
Terjadi ketika salah satu dari produk dapat mengkatalisis reaksi (autokatalis)
Sedangkan kejadiannya atau reaksinya disebut dengan autokatalisis

Contohnya adalah
KMnO4 + H2C2O4 + H2SO4 → MnSO4 + K2SO4 + H2O + CO2

C2H5COOCH3 + H2O → C2H5COOH + CH3OH





Penyiapan bahan baku





Grinding



Drying


Hammer milling


Transporting bahan baku ke conditioning storage


Pelleting



Persiapan packaging 


Packaging

Hasil


KUL 1. Pengenalan teknologi pulp dan paper

SEJARAH PAPER MAKING
 200 BC : Dari kulit binatang
105 AD : Dari pohon mulberry di China
1796 : Pertama kalinya dari continous paper machine
1840: Berdirinya Groundwood pulping (Germany)
1854: Berdirinya soda pulping di England
1867 : Sulfite acid (USA)
1884 : Kraft Pulping (Germany, Waw!) Memang jago mereka!!!

---
Papyrus Making-Cutting

Jaman dulu, orang-orang menggunakan Papyrus sebagai bahan baku untuk pembuatan kertas. Namanya jaman dahulu kala, kualitasnya ya seadanya, tidak seperti sekarang. Namun, jangan salah, dengan ide merekalah kertas sekarang bisa dikembangkan.

Oke berikut saya jelaskan tahap dalam pembuatan kertas dari Papyrus:

Tahap pertama, slicing. Sehingga bisa membuat yang banyak dan hasilnya tidak begitu tebal.

Tahap kedua, direndam dalam bak air

Tahap ketiga, sejajarkan

Tahap keempat, yaitu pressing. Higga benar-benar bagus (dalam artian dengan tekanan yang cukup tinggi ya). Saya sarankan untuk diberi alas agar hasilnya bagus

Tahap selanjutnya, Hasil!


Cara2 “memperoleh” serat dari bahan baku:
Pertama,
Mechanically:  “Grind up” menggiling bahan baku (komponen lignin masih banyak terdapat dalam bahan baku).
Kedua,
Chemically:   pelarutan lignin
  • Kraft pulping:  NaOH/NaSH (dominannya)
  • Sulfite:  (Sulfur Dioxide/bisulfite/sulfite) (terbatas)
  • Other:  Organosolv, steam explosion, etc (sangat terbatas atau sangat jarang
  • Bahan baku



Bahan baku berserat dapat diperoleh dari 2 macam:
» Kayu
» Non kayu (jerami, alang-alang, dst)

Bahan baku kayu
» Softwoods (Gymnospermae) & hardwoods (Angiospermae)
» Logs (dari log kayu yang kemudian dijadikan chip-chip)
» Chips (bahan baku sisa dari industri)

Pengukuran secara fisik:
Hal ini penting untuk:
» Berapa banyak kayu yang datang ke industry (pendataan).
» Berapa banyak bahan baku yang dimasak dalam digester.
» Dapat menghitung kebutuhan cairan (liquor) pemasak dari bahan baku yang dimasukkan tadi.




Skala penggilingan (hal apa saja yang perlu diperhatikan, ini PENTING banget ya!)

  1. Kadar air (Moisture content)
  2. chip screening (besar kecilnya chip)
  3. Spesies bahan baku yang digunakan (ini penting untuk identifikasi hasil dan proses. Kalo ternyata banyak kulitnya, yg mana banyak mengandung ekstraktif dan lignin, maka kebutuhan liquor (cairan pemasak) akan semakin banyak, dan hasil pun kurang baik dari segi kecerahan dan permukaan hasil kertas tsb)

Pengulitan dan Chipping
Hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengulitan:
» Hindarkan, kalo bisa hilangkan semuanya
» Biasanya, kulit kayu digunakan untuk bahan baku pembakaran
» Chip perlu memiliki ukuran yang sama (konsisten) agar hasilnya baik

Ukuran chip dan dimensinya
Besar kecilnya chip (keseragaman) adalah SANGAT PENTING!

  • Kebesaran, maka perlu lama waktunya untuk memasak chipnya, artinya dengan menggunakan waktu masak yang sama, otomatis banyak chip yang belum masak, istilahnya adalah “undercook” (rejects).
  • Terlalu kecil juga, maka akan menghambat sirkulasi dari cairan (liquor) pemasak, bisa menghabiskan banyak cairan pemasaknya, sekaligus dapat memberikan hasil yang rendah dan pulp yang nggak kuat.
  • Ketebalan chip adalah yang SANGAT perlu diperhatikan.

Tulisan ini saya ambil dari matakuliah dari Washington University pse 476
Yang kemudian saya sederhanakan kalimatnya dan saya ambil penting-pentingnya. :D



Dalam tulisan ini, menjelaskan tentang:
(1) Preextraction hemiselulosa
(2) Meningkatkan nilai tambah bahan kimia (produk)
(3) Detoksifikasi
(4) Proses pemisahan ethanol 
(5) dan dehidrasi ethanol
---
Bioethanol akan semakin menjadi populer di masyarakat nanti di masa depan, maka dari itu dalam paper ini akan banyak membahas tentang teknologi biorefineries dengan pendekatan pada pengoptimalan produk bio-ethanol.

Selama ini, untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi, maka blending (pencampuran) bio-ethanol dengan gasoline sudah banyak digalakkan. Adapun negara-negara yg sudah mengoptimalkan teknologi ini adalah Brazil , Finlandia, China, USA, dan negara2 di Eropa.

Keunggulan Bio-ethanol adalah tingginya kandung O2 sehingga menghasilkan pembakaran yang cukup lebih baik dibandingkan minyak bumi (gasoline). 
Umumnya, ada 3 macam teknologi biorefineries pengolahan biomass-to-ethanol:
(1) corn-to-ethanol
(2) teknologi dasar lignocellulosic to ethanol, dan 
(3) integrated lignocellulosic to ethanol and other co-products (termasuk integrated konsep forest biorefinery)
Adapun penjelasan dari masing2 untuk teknologi yg saya sebutkan diatas, penjelasan di bawah ini akan membantu dalam memahami masing-masing proses tsb:

1. Corn to ethanol
Umumnya terdapat 2 proses utama; yaitu dry-grind (67% sudah banyak digunakan) dan wet-grind (33% hanya sebagian)

Nah pada gambar 1 di bawah ini, dijelaskan tentang bagaimana mengolah jagung menjadi ethanol dengan menggunakan proses dry-grind



Selanjutnya, proses wet-grind dapat dilihat pada gambar di bawah berikut ini. 

Bio-refineries dari lignoselulosa menjadi ethanol

Teknologi dari lignoselulosa menjadi ethanol memiliki tantangan yang lebih lagi, disana kita akan diuji kemampuan teknologi separation kita, belum lagi techno-economicnya. Hmmm, bisa nggak ya jika dikembangkan di Indonesia?

Jawabannya adalah, masih belum bisa. Bagi penulis, teknologi ini memakan banyak uang dan energi. Walaupun mungkin bisa saja dilakukan, namun paling dalam skala lab. Di negara-negara maju saja, teknologi ini masih dipertimbangkan. Namun jika dilihat dengan detail, ternyata mereka membagi-bagi diri dari yg mau mengolah bagian pangkalnya, bagian akar, bagian buahnya, dan ada yang mengolah pada produk akhirnya. Semacam produksi automotif yang memiliki bagian-bagian masing-masing, atau lebih tepatnya dengan pabrik maskapai penerbangan. Hehe


Penjelasan.
Dari gambar 3 diatas, maka secara runtut, teknologi ini terdiri atas beberapa langkah:
(1) Pengolahan bahan baku
(2) Pretreatment dan conditioning bahan baku/ detoksifikasi
(3) Sakarifikasi dan co-fermentation
(4) Pemisahan produk hasil dan penjernihan produk (purification)
(5) Pengolahan limbah air proses
(6) Penyimpanan produk
(7) penggunaan lignin sebagai bahan bakar untuk listrik, uap, dan penggunaan lainnya

Pada gambar 4. merupakan proses integrated forest biorefinery. Pada proses hampir sama dengan proses lignoselulosa-menjadi-ethanol, namun dengan penambahan pada:
(1) pre-extraction hemicellulose, and separation hemicellulose dari komponen lainnya dalam extract;
(2) pemisahan antara serat yang pendek dan panjang
(3) pengolahan syngas (synthetic gas) dan konversinya


---
Gambar 5-7 merupakan proses ekstraksi hemiselulosa. Hal ini dilakukan karena hemiselulosa memiliki nilai kalor (heating value) yang rendah apabila disandingkan dengan lignin yg digunakan sebagai bahan bakar (fuel) dalam proses. Maka dari itu sangat disayangkan dan perlu dilakukan ekstraksi pemisahan hemiselulosa pada tahap awal proses. 

PRE-TREATMENTSnya terdiri atas:
1. dilute acide
2. lhw (liquid hot water)
3. steam explosion-based extraction
4. dilute acid-steam explosion
5. alkaline extraction
6. Ammonia fiber explosion




Tulisan ini merupakan hasil terjemahan dan saya kembangkan dengan bahasa saya sendiri dari jurnal Huang et al. (2008). A review of separation technologies in current and future biorefineries




PENDAHULUAN

  • Pemanfaatan bio-oil terbatas. Makanya perlu di-upgrade (ditingkatkan kualitasnya)
  • Selama ini penggunaan dari biodiesel memiliki kekurangan, yaitu (1) ow temperature performance, (2) bervariasinya kualitas akibat berbedanya bahannya, (3) bermacam2nya proses esterifikasi


Maka dari itu, perlu dilakukan adanya study blending biofuels - bio-oil, biodiesel dan alcohol.. Alcohol sendiri digunakan sebagai co-solvent (pelarut) yang dapat membantu dalam proses.

Studi pun kemudian dites. Alcohol yang digunakan adlaah ethanol, 1-butanol, dan 2-propanol.

Hasilnya, menggunakan 1-buthanol memperoleh hasil yang lebih stabil dalam hasilnya, disusul 2-propanol, dan kemudian Ethanol.

---
Pendahuluan
Adapun keuntungan dari bioliquid dari solid fuels adalah (1) tingginya energy density, dan (2) mudahnya dalam penyimpanan dan transportasi

Nah, fast-pyrolysis sendiri adalah hasil dari dekomposisinya biomassa melalui suhu 400-500 celcius yang menghasilkan uap, setelah dingin dan condense (gas menjadi cair), maka dihasilkan yang namanya bio-oil. Disinilah terkadang menjadi miskonsepsi, dikarenakan bio-oil bukanlah identik dengan kata oil itu sendiri, namun karena tampaknya saja, artinya warnanya yang sama (coklat pekat). Review dari Aanja Oasmaa pernah bahas tentang ini. Nanti saya akan tuliskan reviewnya :).

Bio oil sendiri punya nilai kalor (LWH) sebesar 40% dari conventional diesel. Lebih kecil memang, namun karena bio-oil bersifat renewable, maka dari itulah yang menjadi keunggulan daripada minyak (non-renewable resource)

Blending fuels yang dari atas itu, dapat meningkatkan sifat dari bahannya, dalam artian berguna untuk menjadikannya lebih berkualitas. Contohnya, viskositasnya semakin turun, meningkatkan HV (heating value-nya), dan dapat digunakan lebih luas dalam pengaplikasiannya. Apalagi bisa digunakan dalam campuran pure 100% dari bahan terbarukan (biodiesel + Biooil)

TUJUAN
Pencampuran dari bahan dilakukan untuk melihat tahan lamanya dari waktu penyimpanan dan ketahanan dari campuran itu
Selama ini, belum ada standar untuk testing dari blend stanbility

BIO-OIL
lihat Table 1 dan Table 2


BIODIESEL
Diketahui bahwa pencampuran dari bio-diesel dengan diesel dapat meningkatkan tingkat pelumasan karena adanya methyl ester. Selain itu, memiliki kelebihan dari rendahnya sulfur
Menggunakan 100% biodiesel dalam internal combustion => masalah dalam pembakaran. Selain itu, memiliki poor low temperature behavior

ALCOHOL

Sifat dari Biodiesel dan alcoholnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini

BLENDING
Blending disiapkan pada suhu 60 Celcius, dan kemudian didiamkan hingga suhu 25 C.

PAST RECORD (STUDY), Bio-oil dan Ethanol
>20% bio-oil dalam ethanol menyebabkan masalah pada pembakaran dari ethanol, sedangkan dengan proporsi 40% akan menyebabkan ketidakseimbangan dari proses pembakaran itu sendiri


Blendingnya, dari sampel yang dipersiapkan seperti pada table di bawah ini:


TEKNIK UPGRADING LAINNYA
1. Physical
contohnya filtration : menghilangkan kadar abu dan alkali
penambahan pelarut (solvent): untuk mengurangkan viskositas biooil dan meningkatkan stabilitas oil
emulsification: (5-30% bio-oil) untuk penggunaan sebagai bahan transportasi

2. Catalytic processing
Tujuannya untuk meningkatkan kualitas bio-oil dengan menurunkan Oksigennya dan meningkatkan HHV dengan cara deoxygenation dan conventional refining techniques
Hydrotreating dan Zeolit adalah yang paling banyak digunakan dalam beberapa studi

3. Chemical
Aqueous phase processing,
Steam reforming dan Aq phase reforming untuk menghasilkan Hydrogen dan Alkana
Mild cracking
dan Esterifikasi untuk meningkatkan bio-oil dnegan mengurangi kadar airnya, dan meningkatkan stabilitasnya tanpa adanya bantuan dari deoxygenation

STUDY
Dalam studi tersebut, 1-butanol dalam table 7 dijadikan studi tambahan (SPECIAL) dikarenakan dapat menghasilkan campuran yang memiliki stabiltas yang lebih baik

HASIL
LHW (Low Heating Value)

Dalam hal ini, hasilnya sama dengan apa yang diperkirakan bahwa nilai HVnya meningkat


PH
Berdasarkan Tabel 10 dan gambar 1, diketahui dari trend yang diperoleh bahwa nilai pHnya menurun dengan meningkatnya proposi bio-oil

KADAR AIR, DENSITAS, DAN FLASH POINT
-Makin kecil proporis KAnya
-Densitasnya makin menurun
-dan Flash Pointnya sayangnya sulit utk dijelaskan karena bervariasi


FOTO
ini adalah cara untuk menentukan dari studi ini, dengan cara memfoto sampel2nya

HASIL CAMPURAN
1. ETHANOL
Berikut saya jabarkan tentang upgrading bio oil yang mana disini menggunakan sistem pencampuran. Hal ini dilakukan untuk dapat lebih bisa digunakan sebagai fuel (bahan bakar), contohnya untuk bahan bakar diesel




Nah, dari gambar 6 diatas, sebenarnya sampel-sampelnya semuanya dapat dilihat pada gambar di bawah ini


Blending dengan Ethanol
Dari gambar 6 ini dan deskripsi diatas, dapat diketahui bahwa blending dari bio oil , biodiesel dan ethanol yang berhasil bercampur dengan baik adalah: sampel 3, 6, 15, 36, 39, 45, dan 48. 

Blending dengan 1-Buthanol
Dari gambar 7-12 diatas dan deskripsi diatas, dapat diketahui bahwa blending dari bio oil biodiesel dan 1-buthanol yang berhasil bercampur dengan baik adalah: sampel 4, 7, 10, 16, 19, 22, 25, 37, 40, 43, 46, 49, 52, 59, dan 60. 

Blending dengan 1-buthanol

Blending dengan 2-propanol
Dari gambar 14-17 diatas dan deskripsi diatas, dapat diketahui bahwa blending dari bio oil biodiesel dan 2-propanol yang berhasil bercampur dengan baik adalah: sampel 5, 8, 17, 20, 23, 26, 38, 41, 44, 47, 50, dan 53.

Hasilnya adalah menurunnya nilai dari viskositasnya. Dan daya larut dari campurannya sangat bergantung sekali dengan alcohol itu sendiri. Maka dari itu, perlu adanya penggunaan atau pemilihan solvents (alcohol) yg selektif

Batas minimum untuk ethanol untuk dapat menjadikan hasilnya tercampur dengan baik adalah 50%, 1-buthanol 30%, dan 2-propanol 40%. 

TOLERANSI CAMPURAN BIO-OIL
  1. 1-buthanol dapat bercampur dengan bio-oil pada persantase campuran maksimumnya 60%
  2. 2-propanol tolarates bio-oil dengan maksimum persentase 50%
  3. sedangkan Ethanol, dpat tolerates dengan kadar maksimum bio-oil 35%



Ini adalah hasil dari penjabaran dari review A. Alcala, A.V. Bridgwater (2013). Upgrading fast pyrolysis liquids: Blends of biodiesel and pyrolysis oil

On going writing. Will publish soon!






Ini adalah hasil dari penjabaran dari review
A.V. Bridgwater, D. Meier, D. Radlein (1999). An overview of fast pyrolysis of biomass